Sabtu, 03 April 2010

MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU

PENDAHULUAN
Makalah ini membahas konsentrasi
oksigen dari suatu ekosistem perairan di danau
yang dimodelkan oleh suatu persamaan
diferensial tak linier. Dalam ekosistem perairan
yang terdapat banyak tumbuhan dan hewan
akuatik, air merupakan media yang sangat vital
dalam kelangsungan hidup dan dalam proses
perkembang biakan biota tersebut. Oksigen
merupakan senyawa yang penting, karena
diperlukan oleh semua organisme untuk
pernapasan.Dalam budi daya ikan, kualitas dan
kuantitas air yang memenuhi syarat merupakan
salah satu kunci keberhasilan dalam menentukan
hasil produksi (Arifin, 1995).
Oleh karena itu kualitas dan kuantitas
sudah merupakan salah satu yang dijadikan
ukuran untuk menilai layak tidaknya suatu
perairan atau sumber air yang digunakan untuk
budi daya ikan. Begitu juga ketika usaha budi
daya ikan telah berjalan, suplai air harus tetap
memadai dan kualitasnya harus sesuai dengan
kebutuhan ikan yang dibudi dayakan.
Salah satu parameter yang biasa
digunakan untuk mengukur kualitas suatu
perairan adalah jumlah oksigen terlarut (O2),
yaitu menempati urutan kedua setelah
Nitrogen (Cole, 1991). Namun dilihat dari
segi kepentingan untuk budi daya ikan,
Oksigen menempati urutan teratas, karena
dibutuhkan untuk pernapasan. Oksigen yang
diperlukan untuk pernapasan ikan harus
terlarut dalam air.
Oksigen merupakan salah satu faktor
pembatas, sehingga jika ketersediaannya
dalam air tidak mencukupi kebutuhan ikan,
maka segala aktivitas dan proses pertumbuhan
ikan akan tergangu, bahakan akan mengalami
kematian. Menurut Zonneveld dkk.(1991),
kebutuhan Oksigen mempunyai dua aspek
yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies
tertentu dan kebutuan konsumtif yang
bergantung pada keadaan metabolisme ikan.
Ikan membutuhkan oksigen guna
pembakaran untuk menhasilkan aktivitas,
pertumbuhan , reproduksi dll. Oleh karena itu
oksigen bagi ikan menentukan lingkaran
aktivitas ikan, konversi pakan, demikian juga
laju pertumbuhan bergantung pada oksigen
dengan ketentuan faktor kondisi lainnya adalah
optimum. (Cole, 1991)).
Bertitik tolak pada masalah oksigen di
perairan, maka dalam makalah ini akan
membahas secara analitik matematika, melalui
pemodelan matematika yang digunakan sebagai
dasar untuk mengetahui dan memprediksi
kandungan oksigen di perairan danau.
BAHAN DAN METODE
Salah satu sumber oksigen terlarut yang
penting didalam perairan adalah oksigen di
atmosfir yang terlarut dalam massa air pada
permukaan air yang dihasilkan melalui proses
difusi. Penyerapan oksigen dari atmosfir oleh
molekul – molekul air tergantung pada
temperatur, salinitas dan tekanan (Cole, 1983).
Di dalam ekosistem perairan danau,
populasi fitoplankton dan tanaman air
mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam
memproduksi oksigen terlarut melalui
fotosintesis dan pernapasan. Menurut Boyd dkk.
(1991), sebagian besar oksigen (76,9%) dalam
ekosistem perairan berasal dari fotosintesis oleh
fitoplankton. Pada perairan dangkal, suplai
oksigen didominasi oleh tanaman tepi, makrofita
dan alga bentik (Cole, 1983)
Fotosintesis terjadi selama jam-jam siang
hari tetapi pernapasan oleh tanaman terjadi
selama daur ulang harian. Jadi jika terdapat
tanaman air akan menyebabkan masuknya
oksigen melalui fotosintesis selama jam-jam
siang hari, tetapi penggunaan terus menerus dari
oksigen adalah oleh pernapasan (Boyd, 1990)
Pada siang hari, ketika terjadi
fotosintesis, jumlah oksigen terlarut cukup
banyak. Sebaliknya pada malam hari, ketika
tidak terjadi fotosintesis, oksigen yang terbentuk
selama siang hari akan dipergunakan oleh ikan
dan tumbuhan air, sehingga sering terjadi
penurunan konsentrasi oksigen secara drastis.
Kelarutan oksigen di dalam air juga
terkait dengan suhu. Antara oksigen dengan suhu
adalah berbanding terbalik (Boyd, 1990). Pada
temperatur yang tinggi juga dapat meningkatkan
kehilangan oksigen karena penguapan. Jika suhu
sangat tinggi, maka kelarutan jumlah oksigen
menurun, begitu juga sebaliknya. Pada
makalah ini akan diturunkan suatu model
yang sederhana yang menjelaskan dinamika
konsentrasi oksigen pada perairan. Persamaan
model disusun berdasarkan faktor-faktor
sebagai berikut,
1. Difusi atau aerasi oksigen dari atmosfir
ke badan air.
2. Produksi oksigen oleh fotosintesis
tanaman air.
3. Konsumsi oksigen oleh pernapasan
Sehingga persamaan model ditentukan oleh,
=
dt
dO2 Reaerasi + fotosintesis –
pernapasan
Reaerasi:
Reaerasi diuraikan dengan
menggunakan persamaan,
RA k (C O (t)) a s 2 = − (1)
dimana:
ka adalah konstanta reaerasi (karakteristik
untuk danau atau sungai) dan Cs adalah
konsentrasi oksigen pada saat jenuh yaitu
sebagai fungsi suhu dan tekanan barometrik.
Produksi Oksigen:
Produksi oksigen oleh fotosintesis
tanaman air diberikan dengan menggunakan
persamaan logistik sebagai berikut,
PO k O (t)(1 qO (t) 2 3 2 2 = − (2)
dimana k3, q adalah konstan.
Konsumsi Oksigen:
Konsumsi oksigen diberikan oleh
persamaan Michaelis-Menten,
(O (t) k )
O (t)
KO k
2 1
2
2 2 +
= (3)
dimana:
O (t) = 2 Konsentrasi oksigen pada saat t, k1, k2
adalah konstanta
Dari persamaan (1), (2) dan (3) diperoleh
persamaan model konsentasi oksogen pada
perairan (danau) sebagai berikut,
= k (O − O (t)) +
dt
dO (t)
a s 2
2
(O (t) k )
k O (t)(1 qO (t)) k O (t)
2 1
2
3 2 2 2 +
− − (4)
Persamaan model konsentrasi oksigen ini,
sulit untuk dianalisis perilakunya. Oleh karena
itu perlu disederhanakan dengan melakukan
transformasi penskalaan berikut,
1
2k
x = O (t)
1
2k
x − s = O (s)
1
s
a k
O
a(T) = k , dimana T adalah suhu
b
qk k
c = 3 1
e = k2k1
Maka persamaan (4) dapat dituliskan menjadi,
k O (k k )O (t)
dt
dO (t)
2 s 3 a 2
2 = + − -
(k O (t))
qk O (t) k O (t)
1 2
2 2
3 2 +
− (5)
Dengan transformasi di atas, persamaan (5)
dapat dinyatakan sebagai,
(1 x)
a(T) bx(1 cx) ex
dt
dx
+
= + − − (6)
parameter a(T), b, c dan e ditentukan
berdasarkan data dari Jorgensen S.E. (1996).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data dari Jorgensen (1996)
dengan melakukan eksperimen di Sungai Belgia,
di sini diambil nilai b = 1, c = 0,1 dan d = 4,
maka persamaan (6), ditulis menjadi,
(1 x)
a(T) x(1 0,1x) 4x
dt
dx
+
= + − − (7)
selanjutnya akan dianalisis kestabilan titik
kesetimbangan dari persamaan (7). Titik
kesetimbangan diperoleh dari persamaan 0.
dt
dx =
Dengan menentukan kesamaan ini, diperoleh
hubungan titik–titik kesetimbangan antara x
dengan a yang diploting pada gambar 1.
Gambar 1. Kurva kestabilan titik
setimbang
Konsentrasi oksigen terlarut dalam
perairan bergantung pada variasi dari
temperatur. Dalam analisis akan diamati
perilaku dinamika konsentrasi oksigen
terhadap parameter a(T) yang bergantung
pada temperatur. Oleh karena itu analisis
pertama akan dilihat perubahan konsentrasi
oksigen untuk nilai a(T) tertentu.
1. Untuk a(T) = 0,5, maka diperoleh titik
kesetimbangan x1 = 0,22 yang stabil. Ini
menunjukkan bahwa konsentrasi oksigen
akan menuju pada titik ini. Hal ini dapat
lihat pada gambar 2.
Gambar 2. Perilaku dinamik
oksigen pada a(T) = 0,5
2. Untuk a(T) = 1, maka diperoleh titik
kesetimbangan x 1= 0,707, x2 = 2,4 dan x3
= 6. Pada kasus ini konsentrasi oksigen
masih tetap menuju pada titik x1. Hal ini
terlihat pada gambar 3.
Gambar 3. Perilaku dinamik oksigen
pada a(T) = 1
3. Untuk a(T) = 1.2, maka konsentrasi
oksigen menuju ke titik x3 = 6,5. Terlihat
pada grafik gambar 4.
Gambar 4. Perubahan konsentrasi
oksigen pada a(T) = 1.2
4. Untuk a(T) = 1.3, maka konsentrasi oksigen
masih tetap menuju ke titik x3 = 6,8. Terlihat
grafik pada gambar 5.
Gambar 5. Perubahan konsentrasi
oksigen pada a(T) = 1.3
5. Untuk a(T) = 1, konsentrasi oksigen masih
menuju ke titik x3 = 6, disajikan pada gambar
6.
Gambar 6. Perubahan konsentrasi
oksigen pada a(T) = 1
6. Untuk a(T) = 0,7, konsentrasi oksigen
menuju ke titik x1 = 0,35, yang disajikan
pada gambar 7.
Gambar 7. Perubahan konsentrasi
oksigen pada a(T) = 0,7
Pada analisis selanjutnya akan
memperhatikan jika a(T) merupakan fungsi
sinusoidal sebagai fungsi waktu yang dinyatakan
oleh persamaan a(T) = B − Gsin(ϖt) , dengan B
= 12, G =-12 dan ϖ = 1/ 60 . Perubahan
konsentrasi oksigen dan temperatur selama
waktu 1000 hari dengan perhitungan numerik
melalui program paket MAPLE, diberikan pada
gambar 8 dan 9.
Gambar 7. Perilaku konsentrasi
oksigen terhadap waktu
(hari)
Gambar 8. Perubahan temperatur
terhadap waktu (hari)
Dengan membandingkan dua kurva pada
gambar 8 dan 9, ini dapat dijelaskan
bahwa temperatur sebagai variabel kontrol
dalam menentukan perubahan konsentrasi
oksigen pada ekosistem perairan. Hasil
simulasi dari model dijelaskan di sini
bahwa, dengan menaiknya temperatur,
oksigen akan melompat dari level yang
tinggi ke level rendah pada sekitar 6o C,
sementara melompat oksigen dari level
tinggi ke rendah ketika temperatur
menurun pada sekitar 18oC.
KESIMPULAN
Perilaku dinamik konsentrasi oksigen
terlarut pada perairan telah dikaji secara
analitik matematika. Dari hasil simulasi
disimpulakan bahwa perubahan oksigen
dipengaruhi oleh perubahan temperatur. Dan
simulasi menunjukan sifat bahwa perubahan
ini berubah secara kebalikan artinya untuk
temperatur yang tinggi memberi efek pada
turunnya oksigen dan sebaliknya. Hal ini
memberikan hasil yang sesuai dengan teori
yang telah ada menurut ekologi perairan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih,
kepada Dr. Munifatul Izzati yang telah banyak
memberikan sumbangan pikiran dalam
mendiskusikan masalah terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, S., 1995, Menanggulangi Penyakit
ikan dengan Imunisasi Maternal,
Majalah Primadona, Edisi
Nopember.
Boyd, C.E. 1990, Water Quality in Ponds for
Aquacuture, Birmingham Publishing
Co. Birmingham Alabama.
Boyd,C.E., 1991, Water Quality and Aeration in
Shrimp Farming, Aurbun University,
Alabama, Birmingham Publishing Co.
Birmingham, Alabama
Cole, G.A., 1983, Text Book of Limnology,
Third Edition, Weveland Press Inc.
Illinois
Jorgensen, S.E, 1996, Fundamental of Ekologi
Modeling, (2 Edition), Elsevier
Science, B.V., Molenwerf 1,
Amsterdam, The Netherland.
Zonneveld, N., Huisman,E.A dan Boon, J.H,
1991, Prinsip-prinsip Budi Daya Ikan,
PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Read more "MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU..."

Jumat, 02 April 2010

morfologi dan anatomi pisces


Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar. Pada dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan (habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif sangat sedikit.
Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air juga erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut. Morfologi adalah bentuk tubuh (termasuk warna) yang kelihatan dari luar. Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut.
Pada dasarnya morfologi dari setiap jenis hewan air yang masih dekat kekerabatanya mempunyai kemiripan-kemiripan, seperti anatomi dan morfologi udang, kepiting dan lobster hampir mirip. Hal yang sama juga akan kita dapati pada berbagai jenis ikan serta pada berbagai jenis hewan lainya.
Pada dasarnya kita mengenal berbagai jenis hewan air, diantaranya yang paling umum kita kenal adalah ikan, udang, moluska, amfibi, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin, hidup diair, bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan sirip; dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan “paru-paru”.

Ikan
Pada ikan dan pada hewan air lainnya pada umumnya bagian tubuh dibagi menjadi tiga bagian yakni bagian kepala, badan dan ekor (Gambar 1), namun pada setiap jenis ikan ukuran bagian-bagian tubuh tersebut berbeda-beda tergantung jenis ikannya (perhatikan morfologi ikan pada Gambar 3) . Adapun organ-organ yang terdapat pada setiap bagian tersebut adalah:


1. Bagian kepala yakni bagian dari ujung mulut terdepan hingga hingga ujung operkulum (tutup insang) paling belakang. Adapun organ yang terdapat pada bagian kepala ini antara lain adalah mulut, rahang, gigi, sungut, cekung hidung, mata, insang, operkulum, otak, jantung, dan pada beberapa ikan terdapat alat pernapasan tambahan, dan sebagainya.
2. Bagian badan yakni dari ujung operkulum (tutup insang) paling belakang sampai pangkal awal sirip belang atau sering dikenal dengan istilah sirip dubur. Organ yang terdapat pada bagian ini antara lain adalah sirip punggung, sirip dada, sirip perut, hati, limpa, empedu, lambung, usus, ginjal, gonad, gelembung renang, dan sebagainya.
3. Bagian ekor, yakni bagian yang berada diantara pangkal awal sirip belakang/dubur sampai dengan ujung terbelakang sirip ekor. Adapun yang ada pada bagian ini antara lain adalah anus, sirip dubur, sirip ekor, dan pada ikan-ikan tertentu terdapat scute dan finlet, dan sebagainya.
Bentuk tubuh atau morfologi ikan erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita lihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) ikan tersebut. Dengan melihat morfologi ikan maka kita akan dapat mengelompok-ngelompokan ikan/hewan air, dimana sistem atau caranya mengelompokan ikan ini dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi ikan. Dengan demikian, maka sistematika atau taksonomi ini merupakan ilmu yang digunakan untuk mengklasifikasikan ikan/hewan air atau hewan lainnya.
Pada sistematika/taksonomi ini, ada tiga pekerjaan yang biasa dilakukan, yakni identifikasi, klasifikasi dan pengamatan evolusi. Pada identifikasi yaitu usaha pengenalan dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis/spesies untuk selanjutnya memberi nama ilmiahnya sehingga dapat diakui oleh para ahli di seluruh dunia. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa pada saat kita melakukan identifikasi sama halnya dengan kita melakukan analisis. Setelah melakukan identifikasi selanjutnya melakukan klasifikasi, pada tahap ini dilakukan penyususnan kategori-kategori yang lebih tinggi dan menetapkan ciri-cirinya sehingga pada akhirnya akan diketemukan klasifikasinya. Dengan melihat hal ini, maka dapat dikatakan bahwa klasifikasi merupakan taraf untuk melakukan sintesis. Adapun pada penelitian terjadinya spesies dan pengamatan terhadap faktor-faktor evolusi, bertujuan untuk mengetahui pembentukan spesies lain yang sudah ada dan menelaah kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan di kemudian hari. Untuk mencapai tujuan ini maka dilakukan penelaahan kemungkinan terjadinya perubahan pada saat terjadi perubahan kondisi dan menelaah faktor pendorong dan penghambat perubahan tersebut. Adapun morfologi ikan yang terlihat dengan jelas dari luar antara lain adalah bentuk badan, mulut, cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat sisi (linea lateralis/LL), sirip dada, sirip perut, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor, bentuk dari sirip-sirip tersebut serta warna badan dan atau bagian-bagian badan tersebut.


1. Bentuk tubuh ikan
Antara jenis yang satu dengan jenis lainnya berbeda-beda. Perbedaan bentuk tubuh ini pada umumnya disebabkan oleh adanya adaptasi terhadap habitat dan cara hidupnya. Adapun bentuk-bentuk tubuh ikan tersebut dibagi dua yakni ikan yang bersifat
a. Simetri bilateral yaitu ikan yang apabila dibeah ditengah dengan potongan sagital, maka kita akan mendapatkan hasil yang sama persis antara bagian kiri dan bagian kanannya
b. Non simetri bilateral yaitu ikan yang apabila dibeah ditengah dengan potongan sagital, maka kita akan mendapatkan hasil yang berbeda antara bagian kiri dan bagian kanannya
a. Simetri bilateral
Dilihat dari bentuk tubuh terutama dari penampang melintangnya ada beberapa macam bentuk tubuh ikan simetri bilateral, bentuk-bentuk tersebut adalah:
1 Pipih/kompres yakni ikan yang bertubuh pipih atau dengan kata lain lebar tubuh jauh lebih kecil dibanding tinggi tubuh dan panjang tubuh seperti yang tertera pada Gambar 4
2 Picak/depres yakni ikan yang lebar tubuhnya jauh lebih besar dari tinggi tubuhnya (Gambar 5)
3 Cerutu/fusiform yakni ikan dengan tinggi tubuh yang hampir sama dengan lebar dan panjang tubuhnya beberapa kali ukuran tingginya (Gambar 6)
4 Ular/sidat yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupaibelut atau ular (Gambar 7)
5 Tali/filiform yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupai tali (Gambar 8)
6 Pita/taeniform/flattedform yakni ikan yang bentuk tubuhnya memanjang dan tipis menyerupai pita (Gambar 9)
7 Panah/sagittiform yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupai anak panah (Gambar 10)
8 Bola/globiform yakni ikan yang bentuk tubuhnyamenyerupai bola (Gambar 11)
9 Kotak/ostraciform yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupai kotak (Gambar 12)

b.Non simetri bilateral
Ikan yang non simetri bilateral diantaranya adalah ikan sebelah dan ikan lidah


2. Bentuk Mulut Ikan

Ada beberapa macam bentuk mulut ikan. Bentuk mulut ikan antara jenis ikan satu dengan jenis ikan lainnya berbeda-beda tergantung pada jenis makanan yang dimakannya. Secara umum ada empat jenis mulut ikan yaitu:
1. Bentuk seperti tabung (tube like)
2. Bentuk seperti paruh (beak like)
3. Bentuk seperti gergaji (saw like)
4. Bentuk seperti terompet
Mulut Dapat Disembul dan Tidak
Berdasarkan dapat tidaknya disembulkan, mulut ikan dibedakan menjadi 2, yakni:
1. Dapat disembulkan (Gambar 16)
2. Tidak dapat disembulkan
Posisi Mulut
Posisi mulut pada ikan juga bervariasi tergantung dimana letak habitat makanan yang akan dimakannya. Ada empat macam posisi mulut ikan yakni
1. Posisi terminal, yaitu mulut yang terletak di ujung hidung (Gambar 17)
2. Posisi sub terminal, yaitu mulut yang terletak dekat ujung hidung (Gambar 18)
3. Posisi superior, yaitu mulut yang terletak di atas hidung (Gambar 19)
Posisi inferior, yaitu mulut yang terletak di bawah hidung (Gambar 20

3. Bentuk Sirip

Bentuk sirip pada ikan baik sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip belakang (dubur) maupun sirip ekor beraneka ragam untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan Gambar 3 sampai dengan Gambar 20. Dari semua sirip-sirip tersebut yang lebih khas bentuknya dan terdapat pada berjenis-jenis ikan adalah sirip ekor. Pada dasarnya ada sepuluh macam bentuk sirip ekor (Gambar 1-20 dan Gambar 21), yakni:

1. Sirip ekor bercagak seperti pada ikan mas (Cyprinus carpio), ikan tawes (Puntius javanicus), ikan bawal (Pampus sp), dan sebagainya.
2. Sirip ekor berpinggiran tegak, seperti pada ikan buntal (Tetraodon sp)
3. Sirip ekor berpinggiran tegak, seperti pada ikan tambakan (Helostoma temmincki)
4. Sirip ekor berlekuk kembar, seperti pada ikan Scatophagus argus
5. Sirip ekor berbentuk membundar, seperti pada ikan gurame (Osphronemus gouramy)
6. Sirip ekor berbentuk bajir, seperti pada ikan bloso (Glossogobius sp)
7. Sirip ekor berbentuk meruncing, seperti pada ikan belut (Monopterus albus)
8. Sirip ekor berbentuk sabit, seperti pada ikan tongkol (Euthynus sp)
9. Sirip ekor berbentuk episerkal, dalam hal ini ekor bagian atasnya lebih panjang dibanding ekor bagian bawahnya seperti yang terdapat pada ikan atlantik sturgeon (Acipencer oxyrhynchus)
10. Sirip ekor berbentuk hiposerkal, dalam hal ini ekor bagian bawah lebih panjang dibanding ekor bagian atasnya seperti yang terdapat pada ikan caracas (Tylosurus sp)

4. Linealateralis (LL)
Kalau kita perhatikan morfologi ikan, kita eringkali mendapatkan ada semacam garis titik-titik pada ikan yang dikenal dengan istilah lineateralis (LL). Linealateralis adalah garis yang dibentuk oleh pori-pori, sehingga LL ini terdapat baik pada ikan yang bersisik maupun ikan yang tidak bersisik. Pada ikan yang tidak bersisik LL terbentuk oleh pori-pori yang terdapat pada kulitnya, sedangkan pada ikan yang bersisik LL terbentuk oleh sisik yang berpori. Pada umumnya ikan mempunyai satu buah garis LL, namun demikian adapula ikan yan mempunyai beberapa buah LL. LL ini berfungsi LL untuk mendeteksi keadaan linkungan, terutama kualitas air dan juga berperan dalam proses osmoregulasi.
Selain hal tersebut di atas, ikan seringkali mempunyai ciri-ciri khusus, dalam hal ini ada ikan yan mempunyai finlet, skut atau kil dengan definisi sebagai berikut.
• Finlet adalah sirip-sirip kecil yang terdapat di belakang sirip punggung dan sirip belakang (dubur), contohnya akan kita dapati pada ikan kembung (Rastrelliger sp) (Gambar 22)
• Skut adalah kelopak tebal pada bagian perut atau bagian pangkal ekor ikan selar (Caranx sp) (Gambar 23)
• Kil adalah rigi-rigi yang puncaknya meruncing dan terdapat pada pada batang ekor, seperti yang terdapat pada ikan tongkol (Gambar 24)
• Sirip lunak (adipose fin) adalah sirip tambahan berupa lapisan lemak yang ada di belakang sirip punggung atau sirip belakang seperti pada ikan jambal (Ketengus sp) (Gambar 25)
5. Ciri Meristik dan Ciri Morfometrik
Dalam menentukan identifikasi seringkali kita melakukan pengukuran-pengukuran dan penghitungan yang dikenal dengan ciri meristik dan morfometrik. Adapun yang dimaksud dengan meristik adalah ciri yang berkaitan dengan jumlah bagian tubuh tertentu seperti jumlah jari-jari keras dan jumlah jari-jari lemah pada sirip punggung, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan morfometrik adalah ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh seperti panjang total, panjang kepala, dan sebagainya. Adapun ukuran yang biasa dilakukan pada ikan (Gambar 26) adalah
• Panjang total yakni jarak antara ujung kepala yang terdepan (biasanya ujung rahang terdepan) dengan ujung sirip ekor paling belakang
• Panjang baku adalah jarak antara ujung kepala yang terdepan dengan pelipatan pangkal sirip ekor
• Panjang ke pangkal cabang sirip ekor yakni jarak antara ujung kepala terdepan dengan lekuk cabang sirip ekor
• Tinggi badan yakni ukuran tertinggi antara dorsal dengan ventral
• Panjang kepala adalah jarak antara ujung kepala terdepan dengan ujung operkulum terbelakang
Krustase
Hewan air yang bernilai ekonomis penting adalah udang, kepiting dan lobster yang termasuk pada Kelas Krustase. Krustase berasal dari kata crusta yang berarti cangkang keras. Dalam hal ini krustase mempunyai eksoskeleton (kerangka luar) dari bahan kitin yang keras. Kelas Krustase ini merupakan satu-satunya klas dari filum Arthropoda yang anggotanya banyak hidup di lingkungan perairan, khususnya di laut. Kelas Krustase ini merupakan satu-satunya kelas dari Filum Arthropoda yang anggotanya banyak hidup di lingkungan perairan. Adapun morfologi udang (tubuh udang) terdiri dari kepala, toraks dan abdomen, namun antaranya kepala dan toraks bersatu dan gabungan keduanya dinamakan sefalotoraks; sehingga tubuh udang hanya terdiri dari sefalotoraks dan abdomen. Sefalotoraks diselaputi oleh karapas yang menyelubungi baik bagian dorsal dan laterial. Pada sefalotoraks terdapat antena dan antenula yang berfungsi sebagai indera (sensori), mata majemuk yang bertangkai dan dapat digerakan, mulut, mandibula dan insang. Selain itu juga terdapat kaki jalan sebanyak lima pasang. Kaki jalan ini juga disebut pereiopod.
Di bagian abdomen udang terdapat kaki renang yang sering disebut plepoid; plepoid ini berfungsi untuk berenang. Dan di bagian ujung terdapat telson dan urorod yang berfungsi untuk berenang. Tepat dibawah telson terdapat lubang anus yang berfungsi untuk melakukan ekskresi.
Read more "morfologi dan anatomi pisces..."
 

Great Morning ©  Copyright by O-nline News | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks